BENTHOS
PURNAMA
ARBIANTI
1304111870
ILMU
KELAUTAN (A)
LABORATORIUM
EKOLOGI DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN PERAIRAN
JURUSAN
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
RIAU
PEKANBARU
2014
KATA PENGANTAR
Segala puji dan
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
sebagaimana yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun bisa menyelesaikan
Laporan ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak
akan sanggup menyelesaikan Laporan ini
dengan baik. Laporan ini
disusun agar pembaca dan penulis dapat
mengetahui dan memahami lebih dalam tentang Benthos. Dalam
menyusun Laporan ini,
penyusun menghadapi berbagai rintangan, baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran, terutama
pertolongan dari Allah
akhirnya Laporan ini
dapat terselesaikan. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen
pembimbing maupun asisten dalam
praktikum Ekologi Perairan ini yang juga telah banyak membantu penyusun agar
dapat menyelesaikan Laporan ini.
Semoga Laporan ini
dapat memberi wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Laporan ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh sebab
itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.
Pekanbaru 16 April 2014
Purnama Arbianti
DAFTAR ISI
Isi Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................. ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................... iv
I.... PENDAHULUAN.............................................................................. 1
..... 1.1.
Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2. Tujuan
dan Manfaat....................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 3
III. BAHAN
DAN METODE.................................................................. 5
3.1. Waktu
dan Tempat........................................................................ 5
3.2. Bahan
dan Alat.............................................................................. 5
3.3. Metode
Praktikum......................................................................... 5
3.4. Prosedur
Praktikum....................................................................... 5
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN.......................................................... 6
4.1. Hasil............................................................................................... 6
4.2.
Pembahasan................................................................................... 8
V.. KESIMPULAN
DAN SARAN......................................................... 12
5.1.
Kesimpulan.................................................................................... 12
5.2. Saran.............................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.
Identifikasi Spesies
Benthos............................................................... 6
2.
Perhitungan Kelimpahan
Benthos....................................................... 6
3.
Indeks keragaman jenis benthos menurut Shannon-Wienner.............. 7
4. Indeks dominasi jenis benthos................................................................ 7
5. Indeks keseragaman jenis benthos........................................................... 8
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1.
Alat-alat yang digunakan................................................................ 14
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma, dan dapat pula
dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam prakteknya, suatu
habitat dikatakan akuatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internalnya adalah
air.
Perairan umum adalah
bagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi air, baik air
tawar, payau maupun air laut, mulai dari garis pasang, surut terendah ke arah
daratan dan badan air terbentuk secara alami ataupun buatan. Ekosistem perairan
selalu mengalami perubahan kualitas dan kuantitas akibat pengaruh variasi
abiotik (Keeton, 2000).
Tubuh benthos banyak
mengandung mineral kapur. Batu-bau karang yang biasa kita lihat dipantai
merupakam sisa-sisa rumah atau kerangka benthos. Jika timbunannya sangat banyak
rumah-rumah binatang karang ini akan membentuk Gosong Karang, yaitu daratan
dipantai yang terdiri dari batu karang. Selain Hosong Karang ada juga Atol,
yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit (Keeton, 2000).
Benthos mencakup semua
organisme yang hidup didasar atau didalam dasar perairan. Berdasarkan pada
ukurannya, benthos dikelompokkan menjadi makrobenthos dan mikrobenthos, menurut
Fachrul (2007) ukuran benthos diantaranya adalah makrobenthos yaitu 1,0 mm – 5,0
mm; mesobenthos yaitu 0,1 mm – 1,0 mm dan mikrobenthos yaitu < 0,1 mm (
Kinnear, 2001). Sedangkan zoobenthos yang hidup dipermukaan dasar dasar
perairan disebut infauna.
Organisme benthos ini
meliputi jenis-jenis dari kelompok protozoa, sponge, coelentrata, rotifera,
nematoda, bryozoa, decapoda, ostracoda, cladocera, copepoda, pelecypoda,
gastropoda, insekta, dan lintah. Keberadaan hewan ini dipengaruhi oleh kondisi
fisik ( substrat, kekeruhan, arus, kedalaman dan suhu), disamping juga
dipengaruhi oleh faktor kimia (pH, O2, dan bahan-bahan toksik) dan
faktor biologi (predator dan kompetetior).
1.2.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum benthos ini adalah untuk mengetahui jenis dan
kelimpahan benthos, indeks kergaman, dominasi, dan keseragaman benthos.
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat
memahami dan mengetahui lebih jelas lagi dan lebih nyata tentang jenis-jenis
plankton dan benthos yang ada diperairan diwaduk.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Bentos merupakan sebuah
organisme yang tinggal didalam, atau didasar laut, dikenal sebagai zonabentik.
Mereka tinggal didekat lautatau endapan lingkunga, dari pasang surut
disepanjang tepi kolam, dan kemudian kebawah abisal pada kedalaman. Karena
cahaya tidak menembus kedalam laut, sumber energi yang mendalam untuk ekosistem
bentik memiliki organik yang lebih tinggi dari pada air bawah kolam yang masuk
kekedalaman (Wibisono, 2005).
Zoobenthos yang hidup
dipermukaan dasar perairan digolongkan
menjadi epifauna, sedangkan zoobenthos yang hidup didalam dasar perairan
disebut infauna (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan, 2014).
Benthos mencakup semua
organisme yang hidup didasar atau didalam dasar perairan. Berdasarkan pada
ukurannya, benthos dikelompokkan menjadi makrobenthos dan mikrobenthos, menurut
Fachrul (2007) ukuran benthos diantaranya adalah makrobenthos yaitu 1,0 mm –
5,0 mm; mesobenthos yaitu 0,1 mm – 1,0 mm dan mikrobenthos yaitu < 0,1 mm (
Kinnear, 2001)
Pengumpulan benthos
pada masing-masing lokasi dapat secara acak maupun secara stratifikasi. Metode
pengambilan sampel menurut Suin (2002) dapat dilakukan dengan metode
kolonisasi, metode perangkap, dan metode tangkap segera.
Untuk pengamatan
organisme bentik, baik fitobentik seperti rumput lauy, maupun zoobentik seperti
Mollusca, Echinodermata, dan lain-lain dilakukan dengan metode transek kuadrat.
Kadang metode ini dikombinasikan dengan metode transek garis seperti halnya
pengamatan karang.
Peranan hewan benthos
diperairan :
§ Mampu mendaur ulang bahan organik
§ Membantu proses mineralisasi
§ Menduduki posisi penting dalam rantai makanan
§ Indikator pencemaran
Komunitas dikatakan
memiliki keseragaman jenis tinggi, jika kelimpahan masing-masing jenis tinggi,
sebaliknya keanekaragaman jenis rendahjika hanya terdapat beberapa jenis yang
melimpah (Fachrul, 2007).
Suatu komunitas yang
mengandung relatif sedikit individu dari banyak spesies mempunyai indeks
keragaman yang lebih tinggi daripada suatu komunitas yang mempunyai banyak
individu dari jenis yang lebih sedikit (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan
2014).
Keragaman jenis
dipengaruhi oleh :
1. Kondisi lingkungan (iklim) semakin sesuai kondisi lingkungan keragaman
jenis semakin tinggi ata semakin kaya jenisnya.
2. Semakin baik lingkungannya semakin banyak keragamannya (semakin kaya
jenisnya).
3. Adanya pergantian musim dapat mempengaruhi keragaman jenis.
4. Kondisi makanan dapat mempengaruhi keragaman jenis.
Jenis yang dominan ialah jenis-jenis yang dapat
menematkan (memanfaatkan) sumberdaya dan lingkungan yang ada lebih efisien
dibandingkan jenis-jenis lain (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan, 2014).
III.
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum tentang Benthos dilaksanakan pada hari Rabu
tanggal 16 April 2014 pada pukul 10:00 WIB yang mengambil lokasi di Waduk
Faperika Universitas Riau untuk pengambilan sampel dan penelitiannya dilakukan
di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Lingkungan Perairan, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah air sampel dan subtrat hasil
penyaringan yang diambil dari waduk.
Alat
dan bahan yang digunakan adalah alat tulis, kalkulator, lembar kerja praktikum,
pipa paralon, cawan petri, saringan, ember, dan buku identifikasi.
3.3. Metode Praktikum
Metode
yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode tangkap segera dengan alat
pipa paralon dan persen grab yang sampelnya didapat dari waduk.
3.4. Prosedur Praktikum
Prosedur
praktikum adalah sebagai berikut :
1. Tancapkan pipa paralon kedasar perairan yang berlumpur
2. Angkat pipa paralonnya dan saring tanah-tanah yang ada di pipa paralon
3. Lakukan pembersihan terhadap penyaringan tersebut, sehingga hanya hewan
benthos yang tersisa
4. Setelah mendapatkan hewan benthosnya, letakkan hewan benthos ke cawan petri
5. Bawa hewan benthos ke Laboratorium
6. Lakukan pengamatan mengenai benthos tersebut
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
4.1.1. INDEKS KERAGAMAN JENIS
Tabel 1. Identifikasi
Spesies Benthos
![]() |
![]() |
Kelas : Gastropoda
|
Kelas : Gastropoda
|
Nama jenis : Terebralia sulcata
|
Nama jenis : Radix
auricularia
|
Jumlah yang ditemukan
: 3
|
Jumlah yang ditemukan
: 2
|
Tabel2. Perhitungan
Kelimpahan Benthos
Kelas/Genus
|
Nama jenis
|
Jumlah individu
ditemukan (ind)
|
Luas bukaan alat yang
digunakan (cm2)
|
Nilai kelimpahan
jenis (ind/m2)
|
Gastropoda
|
Radix auricularia
|
2
|
=1192,21
|
16,77
|
Gastropoda
|
Terebralia
sulcata
|
3
|
25,16
|
|
Total
|
= 5
|
= 41,93
|
||
Tabel 3. Indeks
keragaman jenis benthos menurut Shannon-Wienner
No
|
Nama jenis
|
Kelimpahan
(ni)
|
Pi = ni/N
|
Log pi
|
Log 2 pi
|
Pi log2 pi
|
1
|
Radix auricularia
|
16,77
|
0,39
|
-0,40
|
-1,32
|
-0,51
|
2
|
Terebralia
sulcata
|
25,16
|
0,60
|
-0,22
|
-0,73
|
-0,43
|
Total
|
N = 41,93
|
1
|
-0,94
|
Nilai indeks
2 pi
= - (-0,94)
= + 0,94
4.1.2. INDEKS DOMINASI JENIS (C’)
Tabel 4. Indeks dominasi
jenis benthos
No
|
Nama jenis
|
Kelimpahan (ni)
|
(ni/N) = pi
|
(ni/N)2 =
pi2
|
1
|
Radix auricularia
|
16,77
|
0,39
|
0,15
|
2
|
Terebralia
sulcata
|
25,16
|
0,60
|
0,36
|
Total
|
N = 41,93
|
Maka, nilai indeks
2
Maka, nilai indeks
0,51
4.1.3. INDEKS KESERAGAMAN JENIS (E)
Tabel 5. Indeks keseragaman jenis benthos
No
|
Nama jenis
|
1
|
Radix auricularia
|
2
|
Terebralia
sulcata
|
Total = 2 jenis
|
|
Nilai H’ = 0,94
Nilai S = 2, maka log S = 0,30
Maka nilai indeks keseragaman jenis
= 0,94
4.2.
Pembahasan
Sebagai
organisme yang hidupnya cenderung menetap didasra perairan, maka pemanfaatan
makrozoobenthos untuk mengetahui kualitas perairan, akan dapat memberikan
gambarab kondisi perairan yang lebih tepat. Namun, dalam hal ini terdapat
beberapa hal yang diperhatikann diantaranya proses pengambilan makrozoobenthos
dan pengidentifikasian. Penentuan kualias perairan dengan menghitung tingkat
keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi serta dengan menggunakan model-model
kelimpahan. Adapun untuk melihat keterkaitannya dengan faktor fisika-kimia
perairan dapat dilakukan dengan pengujian secara regresi atau melalui analisa
komponen utama.
Untuk
melihat kekayaan jenis ini dapat dilihat dari indeks diversitinya (ondeks
keragamn jenis) pada masing-masing ekosistem yang berguna untuk membandingkan
komunitas-komunitas pada suatu ekosistem serta membandingkan antar satu
ekosistem dengan ekosistem lainnya.
Menurut Wilhm dan Dorris :
§ d (H’) :
>3 maka perairannya belum tercemar
§ d (H’) :
1 s.d 3 maka perairannya tercemar ringan
§ d (H’) :
<1 maka perairannya tercemar berat
Menurut Staub
et al dalam Wihlm :
§ d (H’) :
3 s.d 4,5 maka perairannya belum tercemar
§ d (H’) :
2 s.d 3,0 maka perairannya tercemar ringan
§ d (H’) :
1 s.d 2,0 maka tingkat pencemaran perairannya sedang
§ d (H’) :
0 s.d 1,0 maka perairannya tercemar berat
Menurut Weiner
:
Jika H’ < 1 : Rendah, artinya keragaman rendah
dengann sebaran individu tidak merata
Jika 1 ≤ H’ ≤ 3 : Sedang, artinya keragaman sedang
dengan sebaran individu sedang
Jika H’ >
3 : Tinggi, artinya keragaman
tinggi dengan sebaran individu tinggi
Dengan demikian
:
ü jika d (H’) <
1 maka sebaran individu tidak merata ( keragamnannya rendah) berarti lingkungan
perairan tersebut telah mengalami gangguan (tekanan) yang cukup besar, atau
struktur komunitas organisme diperairan tersebut tidak baik.
ü Jika 1 < d (H’) < 3 maka sebaran individu
sedang (keragamannya sedang) berarti perairan tersebut mengalami tekanan
(gangguan) yang sedang atau struktur komunitas organisme yang ada sedang.
ü Jika d (H’)
≥ 3 maka sebaran individu tinggi atau keragamannya tinggi berarti lingkungan
belum mengalami gangguan (tekanan) struktur organisme yang berada dalam keadaan
baik.
Dari
hasil pengamatan yang di dapat bahwa, nilai H’ dari perairan adalah 0,94. Jadi,
keragaman jenis yang ada diperairan tersebut adalah rendah dan sebaran individu
tidak merata. Artinya, lingkungan perairan tersebut telah mengalami tekanan
(gangguan) yang cukup besar, atau struktur komunitas organisme diperairan
tersebut kurang baik.
Keragaman jenis
dipengaruhi oleh :
1.
Kondisi
lingkungan (iklim) semakin sesuai kondisi lingkungan keragaman jenis semakin
tinggi atau semakin kaya jenisnya.
2.
Semakin
baik lingkungannya semakin banyak keragamannya (semakin kaya jenisnya)
3.
Adanya
pergantian musim dapat mempengaruhi keragaman jenis.
4.
Kondisi
makanan dapat mempengaruhi keragaman jenis.
Jenis-jenis
yang dominan ini paling banyak jumlahnya, menenpati paling banyak ruang, paling
berperan dalam aliran energi dan siklus hara atau dengan katalain menguasai
anggota-anggota lain dari komunitas.
Jenis
yang dominan ialah jenis-jenis yang dapat menempatkan atau memanfaatkan
sumberdaya dan lingkungan yang ada lebih efisien dibandingkan dengan
jenis-jenis lain.
Nilai
C’ (indeks dominasi jenis) ini antara 0-1. Apabila nilai C’ mendekati 0 berarti
tidak ada jenis yang mendominasi dan sebaliknya, apabila nilai nilai C’
mendekati 1 berarti ada jenis yang mendomonasi diperairan tersebut.
Dari
hasil pengamatan yang di dapati, bahwa nilai C’ dariperairan tersebut adalah
0,51. Jadi, indeks dominasi jenis diperairan tersebut, ada jenis yang
mendominasi.
Menurut Weber
mengenai Indeks keseragaman jenis (E) adalah sebagai berikut :
Apabila nilai (E) mendekati 1
(>0,5) berarti keseragaman organisme dalam suatub perairan berada dalam
keadaan seimbang, berarti tidak terjadi persaingan beik terhadap tempat maupun
makanan.
Apabila
nilai (E) berada < 0,5 atau mendekati 0, berarti keseragaman jenis organisme
dalam perairan tersebut tidak seimbang, dimana terjadi persaingan baik pada
tempat maupun makanan.
Dari
hasil pengamatan yang didapat, bahwa keseragaman jenis (E) pada perairan
tersebut adalah 0,94. Jadi, keseragaman diperairan tersebut adalah seimbang,
berarti tidak terjadi persaingan beik terhadap tempat maupun makanan.
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Bentos merupakan sebuah
organisme yang tinggal didalam, atau didasar laut, dikenal sebagai zonabentik.
Mereka tinggal didekat lautatau endapan lingkunga, dari pasang surut
disepanjang tepi kolam, dan kemudian kebawah abisal pada kedalaman. Karena
cahaya tidak menembus kedalam laut, sumber energi yang mendalam untuk ekosistem
bentik memiliki organik yang lebih tinggi dari pada air bawah kolam yang masuk
kekedalaman (Wibisono, 2005).
Peranan hewan benthos
diperairan :
§ Mampu mendaur ulang bahan organik
§ Membantu proses mineralisasi
§ Menduduki posisi penting dalam rantai makanan
Indikator pencemaran
Dari hasil pengamatan
yang didapat bahwa, keragaman jenis yang ada diperairan waduk Faperika UR
adalah sedang dengan sebaran individu sedang. Artinya lingkungan perairan
tersebut telah mengalami gangguan yang ringan, atau struktur komunitas
organisme diperairan tersebut sudah kurang baik. Indeks dominasi jenis diperairan tersebut, ada
jenis yang mendominasi, dan ksergaman jenis (E) diperairan waduk Faperika UR
adalah seimbang, berarti tidak terjadi persaingan beik terhadap tempat maupun
makanan.
5.2. Saran
Waduk Faperika
UR merupakan waduk milik bersama yang dapat dimanfaatkan, jadi marilah kita
pelihara waduk tersebut dan hindari dari pencemaran yang berdampak bagi
kehidupan yang ada di Waduk tersebut karena pada saat ini masih banyak makhluk
hidup
yang hidup
diperairan ini.
LAMPIRAN
1. Alat yang digunakan

Pipa paralon

Saringan

Cawan petri

Kalkulator

Mistar

Ember


Tidak ada komentar:
Posting Komentar