Minggu, 20 Juli 2014


BENTHOS

PURNAMA ARBIANTI
1304111870
ILMU KELAUTAN (A)








LABORATORIUM EKOLOGI DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN PERAIRAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014




KATA PENGANTAR
Segala  puji dan syukur  kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana  yang  telah  memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun bisa menyelesaikan Laporan ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan Laporan ini dengan baik. Laporan ini disusun agar pembaca dan penulis dapat mengetahui dan memahami lebih dalam tentang Benthos. Dalam menyusun Laporan ini, penyusun menghadapi berbagai rintangan, baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran, terutama pertolongan dari Allah akhirnya Laporan ini dapat terselesaikan. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing maupun asisten dalam praktikum Ekologi Perairan ini yang juga telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan Laporan  ini.
Semoga Laporan ini dapat memberi wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Laporan ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.

Pekanbaru 16 April 2014



Purnama Arbianti


  DAFTAR ISI
Isi                                                                                                                 Halaman
KATA PENGANTAR .............................................................................         i
DAFTAR ISI.............................................................................................          ii
DAFTAR TABEL                                                                                             iii
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................         iv

I.... PENDAHULUAN..............................................................................          1                                                 
..... 1.1. Latar Belakang ..............................................................................          1    
      1.2. Tujuan dan Manfaat.......................................................................          2    
II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................          3    
III. BAHAN DAN METODE..................................................................          5    
      3.1. Waktu dan Tempat........................................................................          5
      3.2. Bahan dan Alat..............................................................................          5
      3.3. Metode Praktikum.........................................................................          5
      3.4. Prosedur Praktikum.......................................................................          5
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................          6
      4.1. Hasil...............................................................................................          6
      4.2. Pembahasan...................................................................................          8
V.. KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................        12
      5.1. Kesimpulan....................................................................................        12
      5.2. Saran..............................................................................................        12
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



DAFTAR TABEL

Tabel                                                                                                          Halaman

1.      Identifikasi Spesies Benthos...............................................................    6
2.      Perhitungan Kelimpahan Benthos.......................................................   6
3.      Indeks keragaman jenis benthos menurut Shannon-Wienner..............   7
4.      Indeks dominasi jenis benthos................................................................   7
5.      Indeks keseragaman jenis benthos...........................................................   8
DAFTAR LAMPIRAN
  Lampiran                                                                                             Halaman

1.      Alat-alat yang digunakan................................................................  14



































                                                                                                                                                      I.            PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma, dan dapat pula dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam prakteknya, suatu habitat dikatakan akuatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internalnya adalah air.
Perairan umum adalah bagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi air, baik air tawar, payau maupun air laut, mulai dari garis pasang, surut terendah ke arah daratan dan badan air terbentuk secara alami ataupun buatan. Ekosistem perairan selalu mengalami perubahan kualitas dan kuantitas akibat pengaruh variasi abiotik (Keeton, 2000).
Tubuh benthos banyak mengandung mineral kapur. Batu-bau karang yang biasa kita lihat dipantai merupakam sisa-sisa rumah atau kerangka benthos. Jika timbunannya sangat banyak rumah-rumah binatang karang ini akan membentuk Gosong Karang, yaitu daratan dipantai yang terdiri dari batu karang. Selain Hosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit (Keeton, 2000).
Benthos mencakup semua organisme yang hidup didasar atau didalam dasar perairan. Berdasarkan pada ukurannya, benthos dikelompokkan menjadi makrobenthos dan mikrobenthos, menurut Fachrul (2007) ukuran benthos diantaranya adalah makrobenthos yaitu 1,0 mm – 5,0 mm; mesobenthos yaitu 0,1 mm – 1,0 mm dan mikrobenthos yaitu < 0,1 mm ( Kinnear, 2001). Sedangkan zoobenthos yang hidup dipermukaan dasar dasar perairan disebut infauna.
Organisme benthos ini meliputi jenis-jenis dari kelompok protozoa, sponge, coelentrata, rotifera, nematoda, bryozoa, decapoda, ostracoda, cladocera, copepoda, pelecypoda, gastropoda, insekta, dan lintah. Keberadaan hewan ini dipengaruhi oleh kondisi fisik ( substrat, kekeruhan, arus, kedalaman dan suhu), disamping juga dipengaruhi oleh faktor kimia (pH, O2, dan bahan-bahan toksik) dan faktor biologi (predator dan kompetetior).

1.2.            Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum benthos ini adalah untuk mengetahui jenis dan kelimpahan benthos, indeks kergaman, dominasi, dan keseragaman benthos.
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui lebih jelas lagi dan lebih nyata tentang jenis-jenis plankton dan benthos yang ada diperairan diwaduk.











                                                                                                                                         II.            TINJAUAN PUSTAKA

Bentos merupakan sebuah organisme yang tinggal didalam, atau didasar laut, dikenal sebagai zonabentik. Mereka tinggal didekat lautatau endapan lingkunga, dari pasang surut disepanjang tepi kolam, dan kemudian kebawah abisal pada kedalaman. Karena cahaya tidak menembus kedalam laut, sumber energi yang mendalam untuk ekosistem bentik memiliki organik yang lebih tinggi dari pada air bawah kolam yang masuk kekedalaman (Wibisono, 2005).
Zoobenthos yang hidup dipermukaan dasar  perairan digolongkan menjadi epifauna, sedangkan zoobenthos yang hidup didalam dasar perairan disebut infauna (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan, 2014).
Benthos mencakup semua organisme yang hidup didasar atau didalam dasar perairan. Berdasarkan pada ukurannya, benthos dikelompokkan menjadi makrobenthos dan mikrobenthos, menurut Fachrul (2007) ukuran benthos diantaranya adalah makrobenthos yaitu 1,0 mm – 5,0 mm; mesobenthos yaitu 0,1 mm – 1,0 mm dan mikrobenthos yaitu < 0,1 mm ( Kinnear, 2001)
Pengumpulan benthos pada masing-masing lokasi dapat secara acak maupun secara stratifikasi. Metode pengambilan sampel menurut Suin (2002) dapat dilakukan dengan metode kolonisasi, metode perangkap, dan metode tangkap segera.
Untuk pengamatan organisme bentik, baik fitobentik seperti rumput lauy, maupun zoobentik seperti Mollusca, Echinodermata, dan lain-lain dilakukan dengan metode transek kuadrat. Kadang metode ini dikombinasikan dengan metode transek garis seperti halnya pengamatan karang.
Peranan hewan benthos diperairan :
§  Mampu mendaur ulang bahan organik
§  Membantu proses mineralisasi
§  Menduduki posisi penting dalam rantai makanan
§  Indikator pencemaran
Komunitas dikatakan memiliki keseragaman jenis tinggi, jika kelimpahan masing-masing jenis tinggi, sebaliknya keanekaragaman jenis rendahjika hanya terdapat beberapa jenis yang melimpah (Fachrul, 2007).
Suatu komunitas yang mengandung relatif sedikit individu dari banyak spesies mempunyai indeks keragaman yang lebih tinggi daripada suatu komunitas yang mempunyai banyak individu dari jenis yang lebih sedikit (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan 2014).
Keragaman jenis dipengaruhi oleh :
1.      Kondisi lingkungan (iklim) semakin sesuai kondisi lingkungan keragaman jenis semakin tinggi ata semakin kaya jenisnya.
2.      Semakin baik lingkungannya semakin banyak keragamannya (semakin kaya jenisnya).
3.      Adanya pergantian musim dapat mempengaruhi keragaman jenis.
4.      Kondisi makanan dapat mempengaruhi keragaman jenis.
Jenis yang dominan ialah jenis-jenis yang dapat menematkan (memanfaatkan) sumberdaya dan lingkungan yang ada lebih efisien dibandingkan jenis-jenis lain (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan, 2014).







                                                                                                                         III.            METODELOGI PRAKTIKUM

3.1.      Waktu dan Tempat
            Praktikum tentang Benthos dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 April 2014 pada pukul 10:00 WIB yang mengambil lokasi di Waduk Faperika Universitas Riau untuk pengambilan sampel dan penelitiannya dilakukan di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Lingkungan Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
3.2.      Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air sampel dan subtrat hasil penyaringan yang diambil dari waduk.
Alat dan bahan yang digunakan adalah alat tulis, kalkulator, lembar kerja praktikum, pipa paralon, cawan petri, saringan, ember, dan buku identifikasi.
3.3.      Metode Praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode tangkap segera dengan alat pipa paralon dan persen grab yang sampelnya didapat dari waduk.
3.4.      Prosedur Praktikum
Prosedur praktikum adalah sebagai berikut :
1.      Tancapkan pipa paralon kedasar perairan yang berlumpur
2.      Angkat pipa paralonnya dan saring tanah-tanah yang ada di pipa paralon
3.      Lakukan pembersihan terhadap penyaringan tersebut, sehingga hanya hewan benthos yang tersisa
4.      Setelah mendapatkan hewan benthosnya, letakkan hewan benthos ke cawan petri
5.      Bawa hewan benthos ke Laboratorium
6.      Lakukan pengamatan mengenai benthos tersebut

                                                                                                                            IV.            HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.            Hasil
4.1.1.      INDEKS KERAGAMAN JENIS
Tabel 1. Identifikasi Spesies Benthos
http://www.xenophora.org/Iconographie/Potamididae/Terebralia%20sulcata/Terebralia%20sulcata.jpg
http://www.harpercollege.edu/ls-hs/bio/dept/guide/gallery/molluscs/original/pond_snail_campeloma_decisum.jpg
Kelas : Gastropoda
Kelas : Gastropoda
Nama jenis : Terebralia sulcata
Nama jenis : Radix auricularia
Jumlah yang ditemukan : 3
Jumlah yang ditemukan : 2

Tabel2. Perhitungan Kelimpahan Benthos
Kelas/Genus
Nama jenis
Jumlah individu ditemukan (ind)
Luas bukaan alat yang digunakan (cm2)
Nilai kelimpahan jenis (ind/m2)
Gastropoda
Radix auricularia
2

=1192,21
16,77
Gastropoda
Terebralia sulcata
3
25,16
Total
= 5
= 41,93



Tabel 3. Indeks keragaman jenis benthos menurut Shannon-Wienner
No
Nama jenis
Kelimpahan
(ni)
Pi = ni/N
Log pi
Log 2 pi
Pi log2 pi
1
Radix auricularia
16,77
0,39
-0,40
-1,32
-0,51
2
Terebralia sulcata
25,16
0,60
-0,22
-0,73
-0,43

Total
N = 41,93
1


-0,94
Nilai indeks 2 pi
                         = - (-0,94)
                          = + 0,94

4.1.2.      INDEKS DOMINASI JENIS (C’)
Tabel 4. Indeks dominasi jenis benthos
No
Nama jenis
Kelimpahan (ni)
(ni/N) = pi
(ni/N)2 = pi2
1
Radix auricularia
16,77
0,39
0,15
2
Terebralia sulcata
25,16
0,60
0,36

Total
N = 41,93

Maka, nilai indeks 2
Maka, nilai indeks  0,51




4.1.3.      INDEKS KESERAGAMAN JENIS (E)
Tabel 5. Indeks keseragaman jenis benthos
No
Nama jenis
1
Radix auricularia
2
Terebralia sulcata
Total = 2 jenis

Nilai H’ = 0,94
Nilai S = 2, maka log S = 0,30
Maka nilai indeks keseragaman jenis   = 0,94

4.2.            Pembahasan
Sebagai organisme yang hidupnya cenderung menetap didasra perairan, maka pemanfaatan makrozoobenthos untuk mengetahui kualitas perairan, akan dapat memberikan gambarab kondisi perairan yang lebih tepat. Namun, dalam hal ini terdapat beberapa hal yang diperhatikann diantaranya proses pengambilan makrozoobenthos dan pengidentifikasian. Penentuan kualias perairan dengan menghitung tingkat keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi serta dengan menggunakan model-model kelimpahan. Adapun untuk melihat keterkaitannya dengan faktor fisika-kimia perairan dapat dilakukan dengan pengujian secara regresi atau melalui analisa komponen utama.
Untuk melihat kekayaan jenis ini dapat dilihat dari indeks diversitinya (ondeks keragamn jenis) pada masing-masing ekosistem yang berguna untuk membandingkan komunitas-komunitas pada suatu ekosistem serta membandingkan antar satu ekosistem dengan ekosistem lainnya.

 Menurut Wilhm dan Dorris :
§  d (H’)        : >3 maka perairannya belum tercemar
§  d (H’)        : 1 s.d 3 maka  perairannya tercemar ringan
§  d (H’)        : <1 maka perairannya tercemar berat

Menurut Staub et al dalam Wihlm :
§  d (H’)        : 3 s.d 4,5 maka perairannya belum tercemar
§  d (H’)        : 2 s.d 3,0 maka perairannya tercemar ringan
§  d (H’)        : 1 s.d 2,0 maka tingkat pencemaran perairannya sedang
§  d (H’)        : 0 s.d 1,0 maka perairannya tercemar berat

Menurut Weiner :
Jika H’ < 1         : Rendah, artinya keragaman rendah dengann sebaran individu tidak merata
Jika 1 ≤  H’ ≤ 3 : Sedang, artinya keragaman sedang dengan sebaran individu sedang
Jika H’ > 3        : Tinggi, artinya keragaman tinggi dengan sebaran individu tinggi
Dengan demikian :
ü  jika d (H’) < 1 maka sebaran individu tidak merata ( keragamnannya rendah) berarti lingkungan perairan tersebut telah mengalami gangguan (tekanan) yang cukup besar, atau struktur komunitas organisme diperairan tersebut tidak baik.
ü  Jika 1 < d (H’) < 3 maka sebaran individu sedang (keragamannya sedang) berarti perairan tersebut mengalami tekanan (gangguan) yang sedang atau struktur komunitas organisme yang ada sedang.
ü  Jika d (H’) ≥ 3 maka sebaran individu tinggi atau keragamannya tinggi berarti lingkungan belum mengalami gangguan (tekanan) struktur organisme yang berada dalam keadaan baik.
Dari hasil pengamatan yang di dapat bahwa, nilai H’ dari perairan adalah 0,94. Jadi, keragaman jenis yang ada diperairan tersebut adalah rendah dan sebaran individu tidak merata. Artinya, lingkungan perairan tersebut telah mengalami tekanan (gangguan) yang cukup besar, atau struktur komunitas organisme diperairan tersebut kurang baik.
Keragaman jenis dipengaruhi oleh :
1.      Kondisi lingkungan (iklim) semakin sesuai kondisi lingkungan keragaman jenis semakin tinggi atau semakin kaya jenisnya.
2.      Semakin baik lingkungannya semakin banyak keragamannya (semakin kaya jenisnya)
3.      Adanya pergantian musim dapat mempengaruhi keragaman jenis.
4.      Kondisi makanan dapat mempengaruhi keragaman jenis.
Jenis-jenis yang dominan ini paling banyak jumlahnya, menenpati paling banyak ruang, paling berperan dalam aliran energi dan siklus hara atau dengan katalain menguasai anggota-anggota lain dari komunitas.
Jenis yang dominan ialah jenis-jenis yang dapat menempatkan atau memanfaatkan sumberdaya dan lingkungan yang ada lebih efisien dibandingkan dengan jenis-jenis lain.
Nilai C’ (indeks dominasi jenis) ini antara 0-1. Apabila nilai C’ mendekati 0 berarti tidak ada jenis yang mendominasi dan sebaliknya, apabila nilai nilai C’ mendekati 1 berarti ada jenis yang mendomonasi diperairan tersebut.
Dari hasil pengamatan yang di dapati, bahwa nilai C’ dariperairan tersebut adalah 0,51. Jadi, indeks dominasi jenis diperairan tersebut, ada jenis yang mendominasi.
Menurut Weber mengenai Indeks keseragaman jenis (E) adalah sebagai berikut :
            Apabila nilai (E) mendekati 1 (>0,5) berarti keseragaman organisme dalam suatub perairan berada dalam keadaan seimbang, berarti tidak terjadi persaingan beik terhadap tempat maupun makanan.
Apabila nilai (E) berada < 0,5 atau mendekati 0, berarti keseragaman jenis organisme dalam perairan tersebut tidak seimbang, dimana terjadi persaingan baik pada tempat maupun makanan.
Dari hasil pengamatan yang didapat, bahwa keseragaman jenis (E) pada perairan tersebut adalah 0,94. Jadi, keseragaman diperairan tersebut adalah seimbang, berarti tidak terjadi persaingan beik terhadap tempat maupun makanan.



















                                                                                                                              V.            KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.      Kesimpulan
Bentos merupakan sebuah organisme yang tinggal didalam, atau didasar laut, dikenal sebagai zonabentik. Mereka tinggal didekat lautatau endapan lingkunga, dari pasang surut disepanjang tepi kolam, dan kemudian kebawah abisal pada kedalaman. Karena cahaya tidak menembus kedalam laut, sumber energi yang mendalam untuk ekosistem bentik memiliki organik yang lebih tinggi dari pada air bawah kolam yang masuk kekedalaman (Wibisono, 2005).
Peranan hewan benthos diperairan :
§  Mampu mendaur ulang bahan organik
§  Membantu proses mineralisasi
§  Menduduki posisi penting dalam rantai makanan
Indikator pencemaran
Dari hasil pengamatan yang didapat bahwa, keragaman jenis yang ada diperairan waduk Faperika UR adalah sedang dengan sebaran individu sedang. Artinya lingkungan perairan tersebut telah mengalami gangguan yang ringan, atau struktur komunitas organisme diperairan tersebut sudah kurang baik. Indeks dominasi jenis diperairan tersebut, ada jenis yang mendominasi, dan ksergaman jenis (E) diperairan waduk Faperika UR adalah seimbang, berarti tidak terjadi persaingan beik terhadap tempat maupun makanan.
5.2.      Saran
            Waduk Faperika UR merupakan waduk milik bersama yang dapat dimanfaatkan, jadi marilah kita pelihara waduk tersebut dan hindari dari pencemaran yang berdampak bagi kehidupan yang ada di Waduk tersebut karena pada saat ini masih banyak makhluk hidup
yang hidup diperairan ini.









LAMPIRAN











1.      Alat yang digunakan
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTVajSK8dzBY-E2gEl59DmnU5mi4vf9mTWs9tjIe4w5VC25YY3YTA
Pipa paralon
http://www.perabotrumahtangga.com/image-product/img54-1336020396.JPG
Saringan
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQJsItb-nQ82k0Zk62Ec3CaFXVv5VRQVxMJpgzKghfH0ZvZxGyW
Cawan petri

Kalkulator
http://garasiopa.com/wp-content/uploads/2012/08/PenggarisLipat-6.jpg
Mistar
http://www.ptgsu.com/images/detail-panen_ember-cor.png
Ember








Tidak ada komentar:

Posting Komentar